Profesi Guru itu Mulia

Banyak yang bertanya, mengapa beasiswa kita bertujuan untuk mencetak guru?

Bukankah guru pekerjaan yang berat yang tak banyak balasannya?

Bukankah lebih baik mendorong anak-anak itu bekerja di bidang-bidang lainnya, agar hidup mereka lebih sejahtera?

Semua bidang pekerjaan itu bagus adanya.

Tapi di tengah-tengah anak-anak dengan beragam cita-cita, ada pula anak-anak yang bercita-cita sebagai guru, untuk mengabdi, untuk memenuhi panggilan hidup mereka, untuk membuat diri orang lain dan diri mereka sendiri lebih baik, untuk anak-anak didik mereka, untuk anak-anak kita yang pasti harus melalui jenjang pendidikan untuk meraih masa depan mereka.

Bukankah gaji guru kecil?

Pertanyaannya seharusnya adalah: “Apakah pantas bagi orang-orang, yang membantu membentuk masa depan anak-anak kita, ternyata tidak mampu hidup dengan layak dan sejahtera?” Apakah kita ingin mereka ini berhenti menjadi guru? Lalu bagaimanakah nasib anak-anak kita jika tiada orang yang mengajar? Apakah berpangku tangan adalah solusinya? Akankah kata-kata saja membawa perubahan? Ataukah kita harus melakukan suatu kontribusi positif untuk mengubah situasi yang memprihatinkan ini.

Bagaimanakah agar guru-guru dapat hidup dengan layak? Apakah tepat mematikan cita-cita luhur mereka, ataukah seharusnya kita mendorong dan memastikan kehidupan mereka yang penuh pengabdian juga diimbali dengan penghasilan yang layak? Demi siapa? Demi anak-anak kita sendiri, demi generasi penerus kita sendiri, demi kesejahteraan kita sendiri pula, dan semoga akan menjadi riak untuk kesejahteraan semua mahkluk pula.

Ini bukan tanggung jawab sekelompok orang saja. Ini adalah tanggung jawab moral bersama.